Semua Bidang Manfaatkan Sistem Informasi Dapodik

Semua Bidang Manfaatkan Sistem Informasi Dapodik

Semua Bidang Manfaatkan Sistem Informasi Dapodik

Oleh Root Administrator | Kategori Sekretariat | 23 Januari 2018 04:08:26

DISDIKBUD – Semua bidang di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) telah memanfaatkan sistem aplikasi teknologi informasi data pokok pendidikan (Dapodik). Langkah ini diyakini akan memiliki dampak terhadap percepatan pembangunan bidang pendidikan secara menyeluruh.  

Kepala Disdikbud, Fathor Rakhman mencontohkan, bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) lembaga PAUD yang sudah membuat aplikasi rekaman data buta aksara di masing-masing kecamatan hingga desa. Dari sistem tersebut, tiap-tiap daerah akan memiliki tanda merah, hijau, dan kuning sebagai gambaran kondisi daerah tersebut. “Seluruh bidang akan ada perbaikan maksimal secara bertahap,” terangnya.

Menurut Fathor, aplikasi buta aksara sangat penting. Data tersebut by name by adress terhubung dengan Dinas Pendudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil). Saat ini, tercatat angka buta aksara di Situbondo kurang lebih 33 ribu orang.  

“Tidak hanya data nama, data angka saja. Tetapi dapat diketahui dengan pasti berapa orang yang menjadi target dari sasaran kebijakan yang diambil di bidang pendidikan dalam rangka mengentaskan buta aksara,” ujarnya.

Selain itu, sistem informasi tersebut juga bisa menjadi media perbaikan sarana dan prasarana di pendidikan formal. Fathor mengaku, saat ini kondisi masing-masing sekolah di Situbondo masih parsial. “Untuk mamastikan itu, maka harus ada data pokok pendidikan di bidang sarana dan prasarana,” katanya.    

Dengan megetahui kondisi di tiap-tiap sekolah, maka akan lebih mudah mengambil kebijakan dalam pemenuhan dan perbaikan saran dan prasaran. “Terus terang, saat ini bidang Dikdas memiliki PR besar dalam perbaikan standar pelayanan minimal pendidikan sesuai standar nasional. Salah satu standar nasional itu adalah sarana dan prasarana pendidikan,” terang Fathor.

Begitu halnya dengan bidang Ketenagaan. Fathor mengaku, selama ini, yang berkaitan dengan ketenagaan tidak bisa diketahui terpantau dengan baik. Mulai dari jumlah guru yang mengusulkan kenaikan pangkat, penetapan angka kredit, dan lain sebagainya.

“Jumlahnya berapa, siapa, dan dari mana yang usul tidak diketahui. Dengan data ini, siapa yang usul kenaikan pangkat, berapa yang akan pensiun, dapat diketahui dengan pasti,” ujarnya.

Termasuk guru maupun pengeawas yang menyusun karya tulis ilmiyah. Fathor menerangkan, selama ini karya ilmiah tidak terkontrol. Sehingga tidak diketahui apakah karya tersebut hasil sendiri atau tidak.

“Maka dengan informasi melalui database yang tersedia, dapat diketahui keaslian dari karya yang dibuat. Dengan begitu, tidak ada plagiat dalam penyusunan karya tulis,” paparnya.

Bidang kebudayaan juga akan terdata dengan baik. Saat ini, berdasarkan catatan bidang kebudayaan di Dispendukbud, ada sekitar 72 seni dan budaya di Situbondo. Sayangnya, jumlah itu belum diketahui persebarannya dimana saja. “Dengan database yang tersedia di dinas pendidikan, semuanya bisa terungkap,” kata Fathor.

Masih banyak lagi yang bisa terangkum dalam sistem tersebut. Mulai dari merekam gaji guru hingga jumlah potongan gaji. “Pada prinsipnya, dengan tersedianya sarana teknologi pendidikan ini, sangat membantu menunjang pentuntasan kesenjangan pendidikan,” pungkas Fathor. (*)