Sistem Pembelajaran Hingga Kontrol Kehadiran Berbasis IT

Sistem Pembelajaran Hingga Kontrol Kehadiran Berbasis IT

Sistem Pembelajaran Hingga Kontrol Kehadiran Berbasis IT

Oleh Root Administrator | Kategori General | 15 Februari 2018 00:00:00

Di Kabupaten Situbondo masih banyak daerah terpencil. Jangankan mengenal internet, akses menuju ke daerah tersebut masih sulit dijangkau. Tetapi tidak demikian dengan dunia pendidikannya.

Beberapa tahun terakhir ini, dunia pendidikan di Kabupaten Situbondo sudah sangat akrab dengan teknologi. Hampir semua yang berkaitan dengan pendidikan kini berbasis tehnologi  informasi(IT). Mulai dari sistem pembelajaran di kelas-kelas hingga teknis pengawasan tingkat kehadiran guru maupun pegawai di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Situbondo.

          Kadisdikbud, dr Fathor Rahkman yang memiliki inovasi maju tersebut. Orang nomor satu di SKPD yang ada di jalan Madura itu menyadari betul bahwa dunia pendidikan kini tak bisa lagi tertinggal oleh perkembangan teknologi informasi.

          Dalam padandangan Fathor, suka atau tidak suka, IT menjadi bagian yang yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. Tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. “Sehingga penyelenggaraan pendidikan itu harus berbasis IT agar semua yang berkaitan dengan pendidikan bisa dilakukan dengan cepat,” ujarnya 15 Februari 2018.

Kata Fathor, pada sistem pembelajaran berbasis IT, model pembelajarannya menggunakan teknologi. Dimana guru sudah tidak menggunakan papan tulis saat mengajar. “Tapi menggunakan sebuah alat yang bisa langsung merekam sekaligus mengantarkan materi kepada seluruh siswa,” katanya.

Memang, tidak semua sekolah menerapkannya. Untuk inovasi ini di Situbondo sudah diaplikasikan di SMPN 3 Situbondo dan SMPN 3 Besuki. “Tetapi akan terus kita kembangkan di sekolah-sekolah yang lain. Untuk sementara dua sekolah ini yang siap,” ujar Fathor.

Sedangkan untuk memantau tingkat kehadiran guru, Disdikbud sedang membangun sistem informasi pendidikan. Dari sarana ini akan gampang mengetahui seluruh perkembangan pendidikan, dan sumberdaya pendidikan.

Melalui perangkat ini, nantinya kehadiran guru di daerah-daerah terpencil sekaligus lebih mudah dikontrol. Kata Fathor, sudah bukan jamannya memantau guru dengan datang secara langsung ke sekolah-sekolah. Sebab, selain sangat memakan waktu dan tenaga, juga dinilai tidak efektif.

 “Kehadiran guru nanti dapat dilihat setiap saat melalui kantor di Dinas Pendidikan. Demikian juga Kehadiran kepala sekolah dapat dilihat setiap saat. Bukan hanya kehadirannya saja. Kekurangan dan kelebihan guru juga bisa diketahui,” terangnya.

Makanya, Fathor yakin, dalam bidang IT, Situbondo sudah melangkah lebih awal dari daerah-daerah yang lain. Di kota-kota besar sekalipun, seperti Jakarta dan beberapa daerah maju lainnya belum melaksanakan secara optimal.

“Waktu saya mengunjungi beberapa kota, yang namanya sekolah berbasis IT masih sebatas simbolnya saja. Kita ini sudah melangkah kesana untuk sekolah. Untuk di perkantoran, Insyaallah kita  satu-satunya di Indonesia,” jelas Fathor.

Karena itu, tidak mengherankan jika google beberapa waktu lalu datang ke Situbondo. Saat itu vice president google perwakilan Singapura yang langsung ke Situbondo. “Karena kita dilihat konsen menggunakan IT untuk dunia pendidikan,” kata Fathor.

Rintisan berbasis IT ini sudah menginjak tahun kedua untuk di sekolah-sekolah. Sedangkan di perkantoran memasuki tahun pertama. Tetapi dampaknya sudah mulai dirasakan. “Disiplin guru  mulai meningkat karena fingerprint itu terkoneksi, terkontrol oleh kita,” terangnya.

Untuk inovasi pendidikan, Fathor akan terus mengembangkannya secara bertahap. Tetapi ini semuanya akan mudah dilakukan jika ada dukungan dari semua pihak. Mulai dari pemerintah serta masyarakat. “Intinya, kita tidak apriori melihat perkembangan ini,” ujar Fathor.  (*)

 

IT Sebagai Bahan Evaluasi bagi Siswa

PENDIDIKAN berbasis teknologi dirasa sangat sulit apabila diterapkan ke seluruh sekolah yang ada di Situbondo. Karena kondisi sosial, ekonomi masyarakat  bervariasi. “Namun, jika sekolah ingin menggunakan pendidikan berbasis IT sebagai bahan evaluasi bagi siswa, itu masih dimungkinkan,” jelas Kadisdikbud, Fathor Rakhman.

             Untuk menjadi sekolah yang berbasis IT dibutuhkan sarana dan prasarana yang mumpuni. Selain, ketersediaan ruang yang cukup, juga kesiapan dana untuk menyokong segala kebutuhan yang perlu dilengkapi oleh sekolah. Seperti, biaya pemeliharaan komputer dan daya listrik rutin, jaringan interne dengan kecepatan yang memada. Tanpa itu semua, maka sekolah tidak akan jalan,” terangnya.

             Meskipun demikian, bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti seluruh sekolah di Situbondo akan menerapkan IT. Karena, dalam era seperti ini, setiap tahun selalu bertambah sekolah yang akan menggunakan jasa listrik dan internet. Kemudian, setiap ruang belajar di sekolah berbasis IT, wajib menggunakan pendingin ruangan. Minimal adalah AC.  Itu untuk menjaga komputer dari debu. “Karena jika menggunakan kipas angin, tentu masih banyak debu yang masuk dan beterbangan,” paparnya.

          Dia meyakini ada satu dari tiga program pendidikan berbasis IT yang menjadi prioritas Situbondo akan terwujud. Sekolah yang telah merintis menjadi sekolah berbasis teknologi selanjutnya akan semakin bertambah. “Sekolah rintisan yang semula hanya memiliki 1-2 ruang kelas selanjutnya akan bertambah menjadi 3,4 hingga seluruh kelas. Program pendidikan nantinya juga akan bisa bersaing dengan daerah lainnya,” pungkasnya. (*)