Angka Buta Aksara Mengalami Penurunan

Angka Buta Aksara Mengalami Penurunan

Angka Buta Aksara Mengalami Penurunan

Oleh Root Administrator | Kategori Bid. Pembinaan Paud dan Dikmas | 22 Oktober 2020 08:11:39

Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Situbondo, angka buta aksara tahun 2020 sebesar 16.111. Dengan rincian, 8.430 laki-laki dan sebanyak 7.681 perempuan. Sedangkan pada tahun 2019, tercatat 20.711 warga Kota Santri tidak bisa membaca.

Kepala Dispendikbud Situbondo, Ahmad Junaidi mengatakan, penurunan tersebut tidak lepas dari program pembelajaran keaksaraan fungsional (KF) atau pendidikan keaksaraan. Dia menerangkan, sejak tahun 2018 lalu, program ini digalakkan di seluruh desa. “Semacam kelompok belajar. Mereka diajari baca tulis dan menghitung,” jelasnya 23 Oktober 2020.

Dia menerangkan, KF dilaksanakan selama 114 jam. Waktu 114 jam itu diselesaikan dalam durasi berbeda-beda. Tergantung intensitas pelaksanaan pembelajaran. Ada yang menyelesaikan selama tiga bulan hingga enam bulan. “Bahkan ada yang tidak sampai satu bulan,” jelasnya.

Jika waktu pembelajaran dua kali dalam sepekan, maka idealnya waktu pembelajaran 114 jam terpenuhi sekitar tiga bulan. “Kalau setiap hari pertemuan, 21 sudah bisa menyelesaikan KF,” kata pria yang pernah menjabat Kepala Dinas Tenaga Kerja itu.

Junaidi menerangkan, standar waktu pertemuan pendidikan keaksaraan 114 jam. Itu merupakan waktu ideal agar peserta didik mendapatkan materi pelajaran dengan baik. “Sebab, pesertanya ini kan usia dewasa yang juga punya kesibukan. Kalau belajarnya lama seperti usia anak-anak, tidak bisa mengerjakan pekerjaan lain,” imbuhnya.

Peserta yang sudah menyelesaikan pendidikan keaksaraan ini, setara dengan siswa kelas 3 SD. Karena itu, ada pendidikan KF lanjutan yang harus ditempuh lagi selama 3 tahun. “KF lanjutan ini waktunya 86 jam. Kalau sudah selesai KF lanjutan, bisa melanjutkan pendidikan kesetaraan paket A,” jelas Junaidi.

Tujuan pelaksanaan pendidikan keaksaraan, agar rata-rata lama sekolah meningkat. Junaidi menerangkan, angka rata-rata lama sekolah merupakan salah satu indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM). “Buta huruf digarap agar peningkatan rata-rata lama sekolah ini menyasar seluruh kelompok usia,” pungkasnya. (*)