Minta Sekolah Berkreasi Ciptakan Alat Permainan Tradisi

Minta Sekolah Berkreasi Ciptakan Alat Permainan Tradisi

Minta Sekolah Berkreasi Ciptakan Alat Permainan Tradisi

Oleh Root Administrator | Kategori Bid. Pembinaan Paud dan Dikmas | 29 Agustus 2019 15:55:57

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
(Dispendikbud) Kabupaten Situbondo menggelar Gebyar PAUD
Hari Anak Nasional yang ditempatkan di pendapa kabupaten,
27 Agustus 2019. Melalui momentum ini, lembaga-lembaga
pendidikan usia dini diharapkan berkreasi untuk

memperkenalkan alat-alat permainan tradisional. Sebab, anak-
anak sekarang sudah sangat akrab dengan

Gebyar PAUD Hari Anak Nasional berlangsung meriah.
Beberapa penampilan dari anak-anak PAUD membuat kegiatan
tersebut semakin semarak. Seperti penampilan seni.
Kegiatannya dipandu oleh dua pembawa acara dari siswa
PAUD.
Kepala Dispendikbud Situbondo, Fathor Rakhman
menerangkan, ada beberapa jenis perlombaan memeriahkan
Hari Anak Nasional tahun ini. Seperti lomba Tari Jaranan, Tari
Jawa, Permainan Angklung, penampilan syair dan puisi, lomba
menyanyi tunggal, serta mendongeng. “Sayangnya tidak ada
lomba Tari Landhung. Meskinya ada agar anak-anak kita kenal
dengan tari khasnya,” katanya.
Fathor mengaku, pada peringatan Hari Anak Nasional
kemarin, diikuti sejumlah siswa SD dan TK dari empat
kecamatan. Yaitu Kecamatan Situbondo, Panji, Panarukan, dan
Kecamatan Kendit.

Bunda PAUD, Umi Kulsum saat membuka acara
Gebyar PUAD Hari Anak Nasional mengatakan, usia anak-anak
kini sudah akrab dengan gadget. Inilah yang membuat mereka
lebih mengenali permainan yang ada di layar hand phone (HP).
Padahal, penggunaan gadget berdampak tidak baik terhadap

perkembangan anak.
Oleh sebab itu, perlu ada upaya untuk mengakrabi
mereka dengan permainan-permainan tradisional. Sehingga
dunia anak-anaknya tidak hilang begitu saja. Tidak
terkontaminasi dengan hal yang berpotensi membuat
pemikirannya rusak. “Ini bisa dimulai dari lembaga-lembaga
pendidikan usia dini. Guru-guru TK bisa berkreasi untuk
memperkenalkan alat-alat permainan tradisional. Bisa dibuat
sendiri oleh guru atau orang tua di rumah,” ujar Umi Kulsum.
Menurutnya, mengenalkan dengan permainan di gadget
memiliki dampak negatif. Anak-anak biasanya suka menyendiri
kalau sudah memegang HP. Sehingga pergaulan dengan
teman sebayanya menjadi berkurang. “Tidak ada komunikasi
dengan temannya. Makanya, harus tetap dalam pengawasan
orang tua,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Bupati Dadang Wigiarto. Dia
mengatakan, penggunaan HP kepada anak-anak perlu dibatasi.
Jangan sampai mereka lupa waktu, lebih-lebih kecanduan
gadget. “Mengenalkan dengan permainan tradisional, berarti
telah mengembalikan hak anak kepada dunia sesungguhnya,”
ujarnya.
Dadang mengaku, pemerintah daerah sudah ada upaya ke
arah sana. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud)
selaku leading sektor bidang pendidikan, sering mengadakan
perlombaan permainan tradisional untuk jenjang siswa SD dan
TK atau PAUD. “Jadi, biar mereka juga akrab dengan
permainan tradisional,” katanya.
Bupati mengatakan, laju perkembangan era digital saat ini
sulit dibendung. Berkembang begitu cepat. Jika tidak bisa

disaring, maka berdampak negatif terhadap pertumbuhan anak-
anak di masa mendatang. “Perlu ada pengawasan dari orang

tua maupun guru, sebagai langkah antisipasi dalam menyaring
setiap informasi dan konten yang didapat,” imbuhnya.